Apa kabar, Kamu-nya aku?
Kau
tahu? Aku tidak pernah punya cukup waktu untuk sempat menyampaikan ini
kepadamu di menjelang berakhirnya kebersamaan kita. Kalau saat itu aku
tidak sempat berbasa-basi memberi salam perpisahan, itu juga karena
waktu tak bisa berkompromi. Aku selalu berharap agar waktu bisa berkerja
sama untuk tidak berjalan begitu cepat, tapi ternyata tidak bisa. Aku
pernah berpikir untuk menghentikan waktu agar rentang antara kita tidak
semakin melebar, tapi dari mana aku punya kekuatan untuk itu? Aku juga
sempat berniat memutarbalikkan waktu, tapi itu pun tidak mungkin.
Mengulang waktu tidak menjamin jalan cerita yang telah diarahkan oleh
takdir akan menuju ke akhir yang berbeda.
Akan
ada hari saat akhirnya kau mengerti bahwa apa yang pernah kita lewati
adalah apa yang akan terus kau bawa sampai nanti. Bila saat itu tiba,
kau boleh marah dan boleh menyesal, tapi tetaplah mencoba berbesar hati.
Silakan membenciku, atau menangisiku, tapi jangan lupakan aku. Salahkan
aku, atau maafkan aku, tapi belajarlah mengingatku sebagai anugerah.
Aku akan tetap di tempatku, diam-diam mengawasimu hingga datang masa
saat akhirnya kau tak lagi mengenaliku meski aku tak pernah menjauh
darimu.
Jadi,
maaf kalau aku tidak pernah punya banyak waktu untukmu. Jika banyak
rencana tidak sempat terlaksana, simpan saja sebagai impian. Jika banyak
janji yang tidak sempat terpenuhi, anggap saja itu candaku. Jika nanti
kau merindukanku, temui aku di antara rencana dan janji yang berserak di
sela waktu. Aku di sana, menunggumu hadir di antara tidur dan
terjagamu.

Post Comment
Posting Komentar